Lembah Kasih ” MANDALAWANGI “ Selasa, Okt 6 2009 

IMG_0119_1Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam rimbamu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semata

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
“tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah

dan diantara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampui batas2 hutanmu, melampui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966 (salah satu puisinya soe hok gie)

Embun pagi mandalawangi yang mendamaikan hati

Indahnya surya kencana Gn.gede-pangrango

Iklan

Kisah terakhir Soe Hok Gie Selasa, Okt 6 2009 

20081215_035252_hoek2Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442mdpl.

Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676 mdpl. Banyak sekali rekanrekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekanrekannya tesebut :

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusiamanusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :

Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrolngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :

Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseokseok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paruparu. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.

Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepadakawankawanbatu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewekcewek FSUI.” Begitu kirakira katakata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamatlamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tibatiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatihtatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkalikali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.

Sudut Ruangan Bukit Tengkorak 25A. Sabtu, Agu 22 2009 

bukit tengkorak 25Aga kerasa setahun sudah kita lewati bersama, suka dan duka sudah kita lalui bersama.

huh…

tanpa terasa kita sudah akan berpisah dengan cepatnya..”perasaan hati ini berkata bahwa baru kemarin kita berkumpul bersama.”
Bukit tengkorak 25A pun kini kosong melompong. tidak ada lagi canda tawa kita bersama….sudut-sudut Ruangan itu pun kini menjadi saksi bisu aktivitas kita selama 1 tahun.

terima kasih untuk perlindungan yang telah kau berikan kepada kami dimana saat kami membutuhkan tempat yg teduh dan aman dari hujan (badai), dan panas yang menyengat dan tempat untuk melepaskan rasa lelah di benak kami.

terima kasih untuk tumpangan yang kau berikan kepada kami…

Suka – duka Di Bogor EduCARE Rabu, Agu 12 2009 

Hampir satu tahun sudah saya jalani di BEC,,,,
Manis getir cinta sudah saya rasakan.
Tidak terasa, sudah selesainya masa kebersamanan ini..dengan hitungan hari semua ini akan selesai..

kehidupan ini pun akan terasa berbeda ..

Terkadang kehidupan yang lalu membuat saya sangat membosankan, kehidupan ini sangat monoton, ,!!,membuat ku stres, gundah, kadang Plin-plan. .

rasanya ingin bebas keluar dari beban yang telah ku tanggung. .

Huh………..Tapi semua itu ternyata hanya suasana hati yang aneh, yang singgah hanya untuk sejenak. .dan dengan sendirinya rasa itu menghilang..

sayang semua itu akan segera berkahir..

Saya akan sangat merindukan hari-hari di Bogor EduCARE, dimana ketika semua orang membaur di dalam kesenangan.

dan saya akan sangat merindukan ketika semua orang saling membutuhkan satu sama lainnya.

dimana hidup menjadi sangat asing ketika kita berada dikehidupan yang penuh dengan kekosongan & kesendiriaan..

I miss U all friends…………………………

Rahasia Senyuman Monalisa Sabtu, Agu 8 2009 

monalisa_smileSenyuman misteri yang ditunjukkan Monalisa dalam lukisan potret terkenal karya Leonardo da Vinci akhirnya terungkap. Para akademisi Jerman merasa yakin mereka telah berhasil memecahkan misteri yang telah berlangsung beberapa abad di balik identitas gadis cantik yang menjadi obyek lukisan terkenal itu.

(lebih…)

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »